Sumber Download: http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=Downloads&file=index&req=viewsdownload&sid=1&min=10&orderby=dateD&show=10
(Fiqh al-Awlawiyyat, Dr. Yusuf al-Qaradhawi)
DI ANTARA amalan yang sangat dianjurkan menurut pertimbangan agama ialah amalan batiniah yang dilakukan oleh hati manusia. Ia lebih diutamakan daripada amalan lahiriah yang dilakukan oleh anggota badan, dengan beberapa alasan:
Pertama: Karena sesungguhnya amalan yang lahiriah itu tidak akan diterima oleh Allah SWT selama tidak disertai dengan amalan batin yang merupakan dasar bagi diterimanya amalan lahiriah itu, yaitu niat; sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
"Sesungguhnya amal perbuatan itu harus disertai dengan niat." [32]
Arti niat ini ialah niat yang terlepas dari cinta diri dan dunia. Niat yang murni untuk Allah SWT. Dia tidak akan menerima amalan seseorang kecuali amalan itu murni untuk-Nya; sebagaimana difirmankan-Nya:
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus..." (al-Bayyinah: 5)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang murni, yang dilakukan hanya untuk-Nya." [33]
Dalam sebuah hadith qudsi diriwayatkan, Allah SWT berfirman,
"Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan persekutuan. Barangsiapa melakukan suatu amalan kemudian dia mempersekutukan diri-Ku dengan yang lain, maka Aku akan meninggalkannya dan meninggalkan sekutunya."
Dalam riwayat yang lain disebutkan:
"Maka dia akan menjadi milik sekutunya dan Aku berlepas diri darinya." [34]
Kedua: Karena hati merupakan hakikat manusia, sekaligus menjadi poros kebaikan dan kerusakannya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati." [35]
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwasanya hati merupakan titik pusat pandangan Allah, dan perbuatan yang dilakukan oleh hatilah yang diakui (dihargai/dinilai) oleh-Nya. Karenanya, Allah hanya melihat hati seseorang, bila bersih niatnya, maka Allah akan menerima amalnya: dan bila kotor hatinya (niatnya tidak benar), maka otomatis amalnya akan ditolak Allah, sebagaimana disabdakan oleh baginda,
"Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hati kamu." [36]
Yang dimaksudkan di sini ialah diterima dan diperhatikannya amalan tersebut.
Al-Qur'an menjelaskan bahwasanya keselamatan di akhirat kelak, dan perolehan surga di sana, hanya dapat dicapai oleh orang yang hatinya bersih dari kemusyrikan, kemunafikan dan penyakit-penyakit hati yang menghancurkan. Yaitu orang yang hanya menggantungkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana yang Dia firmankan melalui lidah nabi-Nya, Ibrahim al-Khalil a.s.
"Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (Yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (as-Syu'ara': 87-89)
"Dan didekatlah surga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihata (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat." (Qaf: 31-33)
Keselamatan dari kehinaan pada hari kiamat kelak hanya diberikan kepada orang yang datang kepada Allah SWT dengan hati yang bersih. Dan surga hanya diberikan kepada orang yang datang kepada Tuhannya dengan hati yang pasrah.
Taqwa kepada Allah - yang merupakan wasiat bagi orang-orang terdahulu dan yang terkemudian, merupakan dasar perbuatan yang utama, kebajikan, kebaikan di dunia dan akhirat - pada hakikat dan intinya merupakan persoalan hati. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Taqwa itu ada di sini," sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali sambil memberikan isyarat dengan tangannya ke dadanya agar dapat dipahami oleh akal dan jiwa manusia.
Sehubungan dengan hal ini, al-Qur'an memberi isyarat bahwa ketaqwaan itu dilakukan oleh hati manusia:
"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati." (al-Hajj: 32)
Semua tingkah laku dan perbuatan yang mulia, serta tingkatan amalan rabbaniyah yang menjadi perhatian para ahli suluk dan tasawuf, serta para penganjur pendidikan ruhaniah, merupakan perkara-perkara yang berkaitan dengan hati; seperti menjauhi dunia, memberi perhatian yang lebih kepada akhirat, keikhlasan kepada Allah, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, tawakkal kepada Allah, mengharapkan rahmat-Nya, takut kepada siksaan-Nya, mensyukuri nikmatNya, bersabar atas bencana, redha terhadap ketentuan-Nya, selalu mengingat-Nya, mengawasi diri sendiri dan lain-lain. Perkara-perkara ini merupakan inti dan ruh agama, sehingga barangsiapa yang tidak memiliki perhatian sama sekali terhadapnya maka dia akan merugi sendiri, dan juga rugi dari segi agamanya.
Siapa yang mensia-siakan umurnya, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa
Anas meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Tiga hal yang bila siapapun berada di dalamnya, maka dia dapat menemukan manisnya rasa iman. Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain; hendaknya ia mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah; dan hendaknya ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka." [37]
"Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada ibubapa dan anaknya, serta manusia seluruhnya." [38]
Diriwayatkan dari Anas bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, "Kapankah kiamat terjadi wahai Rasulullah?" Beliau balik bertanya: "Apakah yang telah engkau persiapkan?" Dia menjawab, "Aku tidak mempersiapkan banyak shalat dan puasa, serta shadaqah, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, "Engkau akan bersama orang yang engkau cintai." [39]
Hadith ini dikuatkan oleh hadith Abu Musa:
Bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, "Ada seseorang yang mencintai kaum Muslimin, tetapi dia tidak termasuk mereka." Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Seseorang akan bersama dengan orang yang dia cintai." [40]
Hadith-hadith tersebut menunjukkan bahwa cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah, serta cinta kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh merupakan cara pendekatan yang paling baik kepada Allah SWT; walaupun tidak disertai dengan tambahan shalat, puasa dan shadaqah.
Hal ini tidak lain adalah karena cinta yang murni merupakan salah satu amalan hati, yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah SWT.
Atas dasar itulah beberapa ulama besar berkata,
"Aku cinta kepada orang-orang shaleh walaupun aku tidak termasuk golongan mereka.
Aku berharap bahwa aku bisa mendapatkan syafaat (ilmu, dan kebaikan) dari mereka.
Aku tidak suka terhadap barang-barang maksiat, walaupun aku sama maksiatnya dengan barang-barang itu."
Cinta kepada Allah, benci karena Allah merupakan salah satu bagian dari iman, dan keduanya merupakan amalan hati manusia.
Dalam sebuah hadith disebutkan,
"Barangsiapa mencintai karena Allah, marah karena Allah, memberi karena Allah, menahan pemberian karena Allah, maka dia termasuk orang yang sempurna imannya." [41]
"Ikatan iman yang paling kuat ialah berwala' karena Allah, bermusuhan karena Allah, mencintai karena Allah, dan membenci karena Allah SWT." [42]
Oleh sebab itu, kami sangat heran terhadap konsentrasi yang diberikan oleh sebagian pemeluk agama, khususnya para daie' yang menganjurkan amalan dan adab sopan santun yang berkaitan dengan perkara-perkara lahiriah lebih banyak daripada perkara-perkara batiniah; yang memperhatikan bentuk luar lebih banyak daripada intinya; misalnya memendekkan pakaian, memotong kumis dan memanjangkan jenggot, bentuk hijab wanita, hitungan anak tangga mimbar, cara meletakkan kedua tangan atau kaki ketika shalat, dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan bentuk luar lebih banyak daripada yang berkaitan dengan inti dan ruhnya. Perkara-perkara ini, bagaimanapun, tidak begitu diberi prioritas dalam agama ini.
Saya sendiri memperhatikan - dengan amat menyayangkan - bahwa banyak sekali orang-orang yang menekankan kepada bentuk lahiriah ini dan hal-hal yang serupa dengannya - Saya tidak berkata mereka semuanya - mereka begitu mementingkan hal tersebut dan melupakan hal-hal lain yang jauh lebih penting dan lebih dahsyat pengaruhnya. Seperti berbuat baik kepada kedua ibubapa, silaturrahim, menyampaikan amanat, memelihara hak orang lain, bekerja yang baik, dan memberikan hak kepada orang yang harus memilikinya, kasih-sayang terhadap makhluk Allah SWT, apalagi terhadap yang lemah, menjauhi hal-hal yang jelas diharamkan dan lain-lain sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman di dalam kitab-Nya; di awal surah al-Anfal, awal surah al-Mu'minun, akhir surah al-Furqan, dan lain-lain.
Saya tertarik dengan perkataan yang diucapkan oleh saudara kita, seorang daie' Muslim, Dr. Hassan Hathout yang tinggal di Amerika, yang sangat tidak suka kepada sebagian saudara kita yang begitu ketat dan kaku dalam menerapkan hukum Islam yang berkaitan dengan daging halal yang telah disembelih menurut aturan syariat. Mereka begitu ketat meneliti daging-daging tersebut apakah ada kemungkinan bahwa daging tersebut tercampur dengan daging atau lemak babi, walaupun
kemungkinan itu hanya benar 1% sahaja tetapi dalam masa yang sama masa yang sama dia tidak memperhatikan bahwa dia memakan bangkai saudaranya setiap hari beberapa kali (dengan fitnah dan mengumpat/ghibah), sehingga saudaranya dapat menjadi sasaran syubhat dan tuduhan, atau dia sendiri yang menciptakan tuduhan-tuduhan tersebut.
Allahu a’lam..
Catatan kaki:
32- Muttafaq 'Alaih dari Umar (al-Lu'lu' wa al-Marjan, 1245), hadith pertama yang dimuat dalam Shahih al-Bukhari
33- Diriwayatkan oleh Nasai dari Abu Umamah, dan dihasankan olehnya dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (1856)
34- Muslim meriwayatkannya dari Abu Hurairah r.a. dengan lafaz hadith yang pertama, sedangkan lafaz yang lainnya diriwayatkan oleh Ibn Majah.
35- Muttafaq 'Alaih, dari Nu'man bin Basyir, yang merupakan bagian daripada hadith, "Yang halal itu jelas, dan yang haram itu juga jelas" (Lihat al-Lu'lu' wa al-Marjan, 1028)
36- Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. (2564)
37- Muttafaq 'Alaih dari Anas (al-Lu'lu'wa al-Marjan, 26)
38- Muttafaq 'Alaih dari Anas (al-Lu'lu' wa al-Marjan, 27)
39- Muttafaq 'Alaih dari Anas (al-Lu'lu' wa al-Marjan, 1693)
40- Muttafaq 'Alaih dari Anas (al-Lu'lu' wa al- Marjan, 1694)
41- Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab al-Sunnah dari Abu Umamah (4681), dan dalam al-Jami' as-Shaghir riwayat ini dinisbatkan kepada Dhiya' (Shahih al-Jami' as-Shaghir, 5965)
42- Diriwayatkan oleh al-Thayalisi, Hakim, dan Thabrani dalam al-Kabir, dan al-Awsath dari Ibn Mas'ud, Ahmad, dan Ibn Abi Syaibah dari Barra" dan juga diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibn Abbas (Shahih al-Jami' as-Shaghir, 2539)
Thursday, November 27, 2008
Keutamaan Amalan Hati Ke Atas Amalan Badan
Monday, November 24, 2008
Kehebatan Penipuan Menggunakan Teknologi Moden
Part 1
Part 2
P/s: Serius! Aku tengok video ni agak malu gak sebagai org Malaysia dan paling utama orang pandang serong pada Islam. Memang nk tergelak, malu gila, sedih pun ad beb..
Sumber: http://pas123.blogspot.com/2008/11/kehebatan-penipun-menggunakan-teknologi.html
Part 2
P/s: Serius! Aku tengok video ni agak malu gak sebagai org Malaysia dan paling utama orang pandang serong pada Islam. Memang nk tergelak, malu gila, sedih pun ad beb..
Sumber: http://pas123.blogspot.com/2008/11/kehebatan-penipun-menggunakan-teknologi.html
Apabila Zina Lebih Mudah Daripada Kahwin
Minggu depan adalah minggu terakhir saya sebagai Mufti Negeri Perlis. Tulisan hari ini adalah yang kedua sebelum yang terakhir pada minggu hadapan. Banyak perkara yang ingin saya kongsikan sepanjang tempoh dua tahun menjadi mufti.
Namun, nampaknya saya terpaksa tangguhkan terlebih dahulu hasrat itu kerana buat penghabisan kali di atas jawatan ini saya ingin menyentuh kerenah perkahwinan dalam negara ini. Hal ini penting terutama menjelang musim cuti sekolah kerana ramai yang akan berkahwin.
Antara peruntuh nilai-nilai baik dalam kehidupan manusia hari ini adalah apabila dimudahkan yang haram dan disukarkan yang halal. Sedangkan Islam menyuruh kita membentuk suasana atau iklim kehidupan yang menyukarkan yang haram dan memudah yang halal. Itulah tanggungjawab pemerintah dan umat iaitu menegak yang makruf dan mencegah yang munkar.
Menegak yang makruf itu adalah dengan cara menyuruh, memudah dan membantu ke arah tersebut. Sementara mencegah yang munkar adalah dengan cara menghalang, melarang dan menyukarkan jalan untuk sampai kepadanya. Namun, jika masyarakat hari ini menyusahkan yang halal dan menyenangkan yang haram, tanda kita begitu menjauhi ruh syariat islam yang hakiki yang diturunkan oleh Allah s.w.t.
Antara perkara yang selalu disusahkan adalah urusan perkahwinan. Kesusahan membina rumahtangga itu kadang-kala bermula dari keluarga sehingga ‘ketidak fahaman’ tok kadi dan seterusnya pengurusan pejabat agama dan mahkamah syariah. Kerenah-keranah yang berbagai telah memangsakan hasrat pasangan untuk mendapat ‘nikmat seks’ secara halal. Lebih menyedihkan apabila kerenah-keranah itu wujud disebabkan kepentingan-kepentingan luar yang bukan kepentingan pasangan secara langsung.
Umpamanya, urusan kenduri kahwin atau walimah telah dijadikan jambatan kesombongan ibubapa atau keluarga sehingga ditangguh perkahwinan bagi memboleh kenduri besar-besaran dibuat demi menjaga taraf ‘jenama keluarga’. Sehingga ada pasangan yang terpaksa menunggu bertahun kerananya.
Apatah jika keluarga membebankan semua belanja kepada bakal pengantin. Maka bakal pengantin terpaksa mengikat ‘nafsu seks’ hanya kerana hendak menjaga nafsu menunjuk-nunjuk keluarga. Walaupun kenduri kahwin itu disuruh, namun memadailah dengan kadar yang termampu. Tidak semestinya ‘ditumbangkan’ seekor lembu, atau dipanggil orang sekampung atau sebandar, atau dijemput semua rakan taulan.
Seseorang mengadakannya dengan kadar kemampuannya, seperti sabda Nabi s.a.w:
“Buatlah walimah walaupun sekadar seekor kambing” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Dalam ertikata lain, jika hanya mampu kenduri laksa, atau bihun atau mee pun tidak mengapa, asalkan diadakan walimah. Apa yang penting perkahwinan yang halal telah dilunaskan. Janganlah macam orang dulu apabila anaknya sebut ingin berkahwin, bapanya akan bertanya; “kau dah ada lembu ke nak buat kenduri?”. Maka bertangguhlah hasrat si anak. Padahal bukan anaknya ingin berkahwin dengan lembu, dia ingin berkahwin dengan kekasihnya.
Sepatutnya si bapa bertanya: “kau dah ada pasangan ke?”. Itulah soalan yang betul. Lembu tidak termasuk dalam rukun nikah. Apa yang lebih buruk apabila ada pihak yang menjadikan medan walimah sebagai pentas menunjuk-nunjuk kekayaan harta lalu hanya dijemput orang yang ‘berjenama’ dan ditinggalkan saudara-mara, kawan-rakan, jiran-tetangga yang tidak setaraf.
Nabi s.a.w. bersabda:
“Seburuk makanan adalah makanan walimah yang dijemput orang kaya dan ditinggalkan orang miskin..” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Maka, menderitakan bakal suami-isteri disebabkan keangkuhan keluarga.
Saya bukan anti kursus kahwin. Amat baik kursus tersebut jika diuruskan dengan mantap dan betul. Dalam kursus tersebut boleh disampaikan maklumat hukum-hakam nikah yang disyariatkan Allah sehingga generasi muda dapat melihat betapa cantik dan indahnya Islam. Syariat Islam yang mudah dan penuh hikmat dapat diserap dalam pemikiran bakal pasangan, kursusnya mereka yang masih muda. Agar mereka dapat menyelami kehebatan ajaran Islam ini. Maka kursus itu menjadi saluran dakwah penuh professional, mantap, berkesan dalam jiwa dan penghayatan.
Malangnya, kursus kahwin hari ini seakan projek lumayan untuk mengaut yuran peserta. Bukan sedikit saya terima laporan seluruh negara penceramah kursus kahwin yang berunsur lucah, lawak bodoh serta menggambarkan Islam begitu menakut dan susah untuk difahami dan dihayati. Hukum-hakam diterangkan secara berbelit-belit dan menyerabutkan peserta. Maka, kita lihat walaupun yuran kursus nampaknya makin tinggi dan peserta semuanya diwajibkan berkursus, masalah keretakan rumah tangga bagi generasi baru makin meningkat.
Saya juga amat tidak selesa melihat tok kadi yang selalu mendera pengantin agar mengulang-ulang lafaz terima (ijab) ketika akad nikah kononnya belum sah. Akad itu digambarkan begitu sulit dan susah sehingga seseorang menjadi terketar-ketar untuk menyebutnya. Diatur ayat lafaz akad itu dengan begitu skima sehingga pengantin kesejukan untuk menghafalnya.
Padahal akad nikah hanyalah bagi menggambar persetujuan kedua belah pihak menjadi suami isteri yang sah. Apa-apa sahaja lafaz yang membawa maksud kepada tujuan tersebut maka ia sah. Jika bapa bakal isteri menyebut “saya nikahkan saudara dengan anak saya Fatimah”, lalu bakal suami menjawab: “saya terima, atau saya bersetuju” atau mungkin ditambah “saya terima nikahnya” atau “saya bersetuju bernikah dengannya” seperti yang diminta oleh sesetengah sarjana dalam Mazhab al-Syafi’i, maka sahlah ijab dan qabul tersebut. Tidak disyaratkan mesti satu nafas atau dua nafas atau berjabat tangan atau menyusun ayat dalam bahasa sanskrit lama atau ayat tok kadi yang digunakan sebelum merdeka.
Sehinggakan sarjana fekah semasa Dr Abd al-Karim Zaidan dalam karya al-Mufassal fi Ahkam al-Marah wa al-Bait al-Muslim menyebut:
“Jika seseorang lelaki berkata kepada lelaki yang lain: “Nikahkan saya dengan anak perempuan awak”, lalu si bapa itu menjawab: “Aku nikahkan engkau”. Atau si bapa berkata kepada bakal suami: “bernikahlah dengan anak perempuanku”. Lalu bakal suami menjawab: “aku nikahinya”. Kedua contoh di atas adalah sah nikah berdasarkan apa yang disebutkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim: Sesungguhnya seorang arab badawi telah meminang wanita yang telah mempelawa dirinya untuk Nabi s.a.w (ingin berkahwin dengan Nabi s.a.w), arab badawi itu berkata:”Nikahilah dia denganku”. Jawab Nabi s.a.w.: “Aku nikahkan engkau dengannya bermaharkan al-Quran yang ada bersamamu”. (al-Mufassal, 6/87, Beirut: Muassasah al-Risalah).
Bahkan dalam Sahih al-Bukhari ada bab yang al-Imam al-Bukhari letakkan ia berbunyi: Bab Iza Qala al-Khatib li al-Wali Zawwijni Fulanah, faqala qad Zauwajtuka bi Kaza wa Kaza, Jaza al-Nikah Wa In Lam Yaqul li al-Zauj Aradita au Qabilta, maksudnya: Bab Apabila Lelaki Yang Meminang Berkata Kepada Wali Perempuan: “Kahwinilah aku dengan wanita berkenaan”, lalu dia menjawab: “Aku nikahkan engkau dengannya bermaharkan sekian dan sekian, maka sah nikahnya walaupun tidak ditanya si suami apakah engkau setuju, atau terima”.
Inilah kesimpulan yang dibuat oleh al-Imam al-Bukhari berdasarkan hadis-hadis dalam bab nikah yang diteliti olehnya. Apa yang penting proses ijab dan qabul amatlah mudah. Ia adalah lafaz yang difahami oleh kedua belah pihak serta dua saksi yang menjelaskan kehendak dan persetujuan untuk berkahwin atau menjadi suami dan isteri. Apabila proses itu berlaku maka ia sah.
Tidak pernah ada dalil yang menyatakan mestilah satu nafas, atau tidak terputus nafas seperti diada-adakan oleh sesetengah pihak. Paling tinggi yang boleh kita kata adalah tidak boleh ada ruang yang menyebabkan salah satu pihak mengelirukan atau dikelirukan dalam menyatakan persetujuan nikah. Justeru itu Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah r.h (meninggal 728H) menyebut:
“Nikah itu terlaksana (sah) dengan apa sahaja yang dihitung oleh orang ramai sebagai nikah; dalam apa bahasa, atau lafaz atau perbuatan”. (petikan Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, 2/355).
Apa yang ingin saya jelaskan betapa proses ijab qabul itu begitu mudah dan senang. Memadai jika bakal suami menjawab: “aku terima nikahnya”. Tidak timbul terpaksa berulang kali seperti yang dibuat oleh sesetengah pihak membuli pengantin. Jika jawapan yang diperlukan begitu ringkas dan jelas, dan pengantin pun telah melakukannya, mengapa pula ada tok kadi yang sengaja bertanya hadirin: perlu ulang ke? Lalu mereka pun dengan sukanya menyebut beramai-ramai ‘sekali lagi!, sekali lagi! Ini adalah permainan buli yang cuba dicampur aduk dengan hukum syarak.
Setelah berkahwin, rumahtangga yang dibina seperti yang diajar oleh Islam hendaklah menjadi syurga, bukan neraka. Jika perkahwinan tidak dapat membawa kebahgiaan, insan tidak disuruh memperjudikan hidup keseluruhan kerana isteri atau suaminya. Walaupun talak itu bukan perbuatan yang baik, namun ia dibenarkan jika terpaksa.
Insan mempunyai matlamat hidup, bukan sekadar untuk bertungkus lumus kerana masalah seorang lelaki atau wanita. Maka Islam mengajar cara-cara yang berbagai demi menyelamatkan rumah tangga dari talak. Jika gagal, Islam juga mengajar talak untuk mengelakkan kezaliman berlaku antara salah satu pihak; suami atau isteri. Firman Allah: (maksudnya)
“Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu) kemudian mereka (hampir) habis tempoh idahnya maka bolehlah kamu pegang mereka (rujuk) dengan cara yang baik atau lepaskan mereka dengan cara yang baik. dan janganlah kamu pegang mereka (rujuk semula) dengan tujuan memberi mudarat, kerana kamu hendak melakukan kezaliman (terhadap mereka); dan sesiapa yang melakukan demikian maka sesungguhnya dia menzalimi dirinya sendiri. dan janganlah kamu menjadikan ayat-ayat hukum Allah itu sebagai ejek-ejekan (dan permainan). dan kenanglah nikmat Allah yang diberikan kepada kamu, (dan kenanglah) apa yang diturunkan kepada kamu Iaitu Kitab (Al-Quran) dan hikmat, untuk memberi pengajaran kepada kamu dengannya. dan bertaqwalah kepada Allah serta ketahuilah: sesungguhnya Allah Maha mengetahui akan tiap-tiap sesuatu” (Surah al-Baqarah, ayat 231).
Jika penerusan perkahwinan hanya memberi mudarat kepada pasangan, maka talak itu disuruh oleh al-Quran. Malanglah kaum wanita yang sepatutnya telah dikeluarkan oleh al-Quran dari kezaliman atau kemudaratan si suami, tiba-tiba terjatuh dalam kezaliman batin akibat proses birokrasi mahkamah yang bernama syariah.
Maka, wanita hari ini ada yang terseksa batinnya kerana menunggu proses mahkamah yang kadang-kala memakan masa bertahun-tahun. Bagaimana mungkin isteri yang sudah tujuh lapan tahun suaminya tidak mengambil tahu soal nafkah zahir dan batin tetap disahkan oleh mahkamah bahawa dia masih suami sekalipun isteri berulang meminta dipisahkan. Kata Dr Karim ‘Abd al-Karim Zaidan menyebut:
“Jika suami gagal menunaikan nafkah untuk isteri, kadi memisah antara mereka jika isteri memilih untuk berpisah…Hal ini diriwayatkan dari sejumlah para sahabat dan tabi’in” (al-Mufassal, 7/217).
Beliau juga memetik apa yang disebut oleh al-Dardir dalam al-Syarh al-Kabir: “Bagi isteri boleh menuntut dipisahkan dari suami disebabkan mudarat yang dilakukannya; iaitu apa yang tidak diizinkan oleh syarak untuk dia buat seperti meninggalkan isteri atau memukulnya tanpa sebab dibenarkan syarak. Atau memaki dia atau bapanya seperti menyebut: Wahai anak anjing, atau wahai anak kafir! Atau wahai anak orang yang dilaknat”.
Dr Zaidan seterusnya memetik apa yang disebut oleh al-Imam Ibn Taimiyyah:
“Maka dianggap memberi mudarat kepada isteri yang boleh dipisah (dipasakh) apabila suami meninggalkan persetubuhan dalam apa keadaan sekalipun. Samada suami sengaja atau tidak sengaja”. (ibid 8/439).
Semua perbahasan yang begitu banyak boleh didapati dalam khazanah Islam itu menggambarkan rumahtangga untuk kebahagiaan hidup insan bukan untuk kedukaan mereka. Jika rumahtangga itu mengundang kedukaan, insan diberi peluang keluar oleh syarak untuk keluar dari daerah itu dengan segera. Malanglah, jika pintu keluar itu dihalang oleh kerenah biorokrasi mahkamah. Hakim barang kali ringan lidahnya menyebut: “kita tangguhkan perbicaraan kerana suami tidak hadir” sedangkan kesan jiwa begitu besar dan berat ditanggung oleh isteri.
Sebenarnya dalam Islam, jalan kepada halal dan kebahagian dibuka dengan begitu luas dan mudah. Dukacita, jika atas nama agama kita menyusahkan jalan yang halal dan dalam masa yang sama ada pula pihak-pihak lain yang memudahkan jalan yang haram. Perlaksanaan agama hendaklah bukan sahaja mendakwa adil, tetapi hendaklah juga kelihatan adil.
Sumber : drmaza.com
Namun, nampaknya saya terpaksa tangguhkan terlebih dahulu hasrat itu kerana buat penghabisan kali di atas jawatan ini saya ingin menyentuh kerenah perkahwinan dalam negara ini. Hal ini penting terutama menjelang musim cuti sekolah kerana ramai yang akan berkahwin.
Antara peruntuh nilai-nilai baik dalam kehidupan manusia hari ini adalah apabila dimudahkan yang haram dan disukarkan yang halal. Sedangkan Islam menyuruh kita membentuk suasana atau iklim kehidupan yang menyukarkan yang haram dan memudah yang halal. Itulah tanggungjawab pemerintah dan umat iaitu menegak yang makruf dan mencegah yang munkar.
Menegak yang makruf itu adalah dengan cara menyuruh, memudah dan membantu ke arah tersebut. Sementara mencegah yang munkar adalah dengan cara menghalang, melarang dan menyukarkan jalan untuk sampai kepadanya. Namun, jika masyarakat hari ini menyusahkan yang halal dan menyenangkan yang haram, tanda kita begitu menjauhi ruh syariat islam yang hakiki yang diturunkan oleh Allah s.w.t.
Antara perkara yang selalu disusahkan adalah urusan perkahwinan. Kesusahan membina rumahtangga itu kadang-kala bermula dari keluarga sehingga ‘ketidak fahaman’ tok kadi dan seterusnya pengurusan pejabat agama dan mahkamah syariah. Kerenah-keranah yang berbagai telah memangsakan hasrat pasangan untuk mendapat ‘nikmat seks’ secara halal. Lebih menyedihkan apabila kerenah-keranah itu wujud disebabkan kepentingan-kepentingan luar yang bukan kepentingan pasangan secara langsung.
Umpamanya, urusan kenduri kahwin atau walimah telah dijadikan jambatan kesombongan ibubapa atau keluarga sehingga ditangguh perkahwinan bagi memboleh kenduri besar-besaran dibuat demi menjaga taraf ‘jenama keluarga’. Sehingga ada pasangan yang terpaksa menunggu bertahun kerananya.
Apatah jika keluarga membebankan semua belanja kepada bakal pengantin. Maka bakal pengantin terpaksa mengikat ‘nafsu seks’ hanya kerana hendak menjaga nafsu menunjuk-nunjuk keluarga. Walaupun kenduri kahwin itu disuruh, namun memadailah dengan kadar yang termampu. Tidak semestinya ‘ditumbangkan’ seekor lembu, atau dipanggil orang sekampung atau sebandar, atau dijemput semua rakan taulan.
Seseorang mengadakannya dengan kadar kemampuannya, seperti sabda Nabi s.a.w:
“Buatlah walimah walaupun sekadar seekor kambing” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Dalam ertikata lain, jika hanya mampu kenduri laksa, atau bihun atau mee pun tidak mengapa, asalkan diadakan walimah. Apa yang penting perkahwinan yang halal telah dilunaskan. Janganlah macam orang dulu apabila anaknya sebut ingin berkahwin, bapanya akan bertanya; “kau dah ada lembu ke nak buat kenduri?”. Maka bertangguhlah hasrat si anak. Padahal bukan anaknya ingin berkahwin dengan lembu, dia ingin berkahwin dengan kekasihnya.
Sepatutnya si bapa bertanya: “kau dah ada pasangan ke?”. Itulah soalan yang betul. Lembu tidak termasuk dalam rukun nikah. Apa yang lebih buruk apabila ada pihak yang menjadikan medan walimah sebagai pentas menunjuk-nunjuk kekayaan harta lalu hanya dijemput orang yang ‘berjenama’ dan ditinggalkan saudara-mara, kawan-rakan, jiran-tetangga yang tidak setaraf.
Nabi s.a.w. bersabda:
“Seburuk makanan adalah makanan walimah yang dijemput orang kaya dan ditinggalkan orang miskin..” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Maka, menderitakan bakal suami-isteri disebabkan keangkuhan keluarga.
Saya bukan anti kursus kahwin. Amat baik kursus tersebut jika diuruskan dengan mantap dan betul. Dalam kursus tersebut boleh disampaikan maklumat hukum-hakam nikah yang disyariatkan Allah sehingga generasi muda dapat melihat betapa cantik dan indahnya Islam. Syariat Islam yang mudah dan penuh hikmat dapat diserap dalam pemikiran bakal pasangan, kursusnya mereka yang masih muda. Agar mereka dapat menyelami kehebatan ajaran Islam ini. Maka kursus itu menjadi saluran dakwah penuh professional, mantap, berkesan dalam jiwa dan penghayatan.
Malangnya, kursus kahwin hari ini seakan projek lumayan untuk mengaut yuran peserta. Bukan sedikit saya terima laporan seluruh negara penceramah kursus kahwin yang berunsur lucah, lawak bodoh serta menggambarkan Islam begitu menakut dan susah untuk difahami dan dihayati. Hukum-hakam diterangkan secara berbelit-belit dan menyerabutkan peserta. Maka, kita lihat walaupun yuran kursus nampaknya makin tinggi dan peserta semuanya diwajibkan berkursus, masalah keretakan rumah tangga bagi generasi baru makin meningkat.
Saya juga amat tidak selesa melihat tok kadi yang selalu mendera pengantin agar mengulang-ulang lafaz terima (ijab) ketika akad nikah kononnya belum sah. Akad itu digambarkan begitu sulit dan susah sehingga seseorang menjadi terketar-ketar untuk menyebutnya. Diatur ayat lafaz akad itu dengan begitu skima sehingga pengantin kesejukan untuk menghafalnya.
Padahal akad nikah hanyalah bagi menggambar persetujuan kedua belah pihak menjadi suami isteri yang sah. Apa-apa sahaja lafaz yang membawa maksud kepada tujuan tersebut maka ia sah. Jika bapa bakal isteri menyebut “saya nikahkan saudara dengan anak saya Fatimah”, lalu bakal suami menjawab: “saya terima, atau saya bersetuju” atau mungkin ditambah “saya terima nikahnya” atau “saya bersetuju bernikah dengannya” seperti yang diminta oleh sesetengah sarjana dalam Mazhab al-Syafi’i, maka sahlah ijab dan qabul tersebut. Tidak disyaratkan mesti satu nafas atau dua nafas atau berjabat tangan atau menyusun ayat dalam bahasa sanskrit lama atau ayat tok kadi yang digunakan sebelum merdeka.
Sehinggakan sarjana fekah semasa Dr Abd al-Karim Zaidan dalam karya al-Mufassal fi Ahkam al-Marah wa al-Bait al-Muslim menyebut:
“Jika seseorang lelaki berkata kepada lelaki yang lain: “Nikahkan saya dengan anak perempuan awak”, lalu si bapa itu menjawab: “Aku nikahkan engkau”. Atau si bapa berkata kepada bakal suami: “bernikahlah dengan anak perempuanku”. Lalu bakal suami menjawab: “aku nikahinya”. Kedua contoh di atas adalah sah nikah berdasarkan apa yang disebutkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim: Sesungguhnya seorang arab badawi telah meminang wanita yang telah mempelawa dirinya untuk Nabi s.a.w (ingin berkahwin dengan Nabi s.a.w), arab badawi itu berkata:”Nikahilah dia denganku”. Jawab Nabi s.a.w.: “Aku nikahkan engkau dengannya bermaharkan al-Quran yang ada bersamamu”. (al-Mufassal, 6/87, Beirut: Muassasah al-Risalah).
Bahkan dalam Sahih al-Bukhari ada bab yang al-Imam al-Bukhari letakkan ia berbunyi: Bab Iza Qala al-Khatib li al-Wali Zawwijni Fulanah, faqala qad Zauwajtuka bi Kaza wa Kaza, Jaza al-Nikah Wa In Lam Yaqul li al-Zauj Aradita au Qabilta, maksudnya: Bab Apabila Lelaki Yang Meminang Berkata Kepada Wali Perempuan: “Kahwinilah aku dengan wanita berkenaan”, lalu dia menjawab: “Aku nikahkan engkau dengannya bermaharkan sekian dan sekian, maka sah nikahnya walaupun tidak ditanya si suami apakah engkau setuju, atau terima”.
Inilah kesimpulan yang dibuat oleh al-Imam al-Bukhari berdasarkan hadis-hadis dalam bab nikah yang diteliti olehnya. Apa yang penting proses ijab dan qabul amatlah mudah. Ia adalah lafaz yang difahami oleh kedua belah pihak serta dua saksi yang menjelaskan kehendak dan persetujuan untuk berkahwin atau menjadi suami dan isteri. Apabila proses itu berlaku maka ia sah.
Tidak pernah ada dalil yang menyatakan mestilah satu nafas, atau tidak terputus nafas seperti diada-adakan oleh sesetengah pihak. Paling tinggi yang boleh kita kata adalah tidak boleh ada ruang yang menyebabkan salah satu pihak mengelirukan atau dikelirukan dalam menyatakan persetujuan nikah. Justeru itu Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah r.h (meninggal 728H) menyebut:
“Nikah itu terlaksana (sah) dengan apa sahaja yang dihitung oleh orang ramai sebagai nikah; dalam apa bahasa, atau lafaz atau perbuatan”. (petikan Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, 2/355).
Apa yang ingin saya jelaskan betapa proses ijab qabul itu begitu mudah dan senang. Memadai jika bakal suami menjawab: “aku terima nikahnya”. Tidak timbul terpaksa berulang kali seperti yang dibuat oleh sesetengah pihak membuli pengantin. Jika jawapan yang diperlukan begitu ringkas dan jelas, dan pengantin pun telah melakukannya, mengapa pula ada tok kadi yang sengaja bertanya hadirin: perlu ulang ke? Lalu mereka pun dengan sukanya menyebut beramai-ramai ‘sekali lagi!, sekali lagi! Ini adalah permainan buli yang cuba dicampur aduk dengan hukum syarak.
Setelah berkahwin, rumahtangga yang dibina seperti yang diajar oleh Islam hendaklah menjadi syurga, bukan neraka. Jika perkahwinan tidak dapat membawa kebahgiaan, insan tidak disuruh memperjudikan hidup keseluruhan kerana isteri atau suaminya. Walaupun talak itu bukan perbuatan yang baik, namun ia dibenarkan jika terpaksa.
Insan mempunyai matlamat hidup, bukan sekadar untuk bertungkus lumus kerana masalah seorang lelaki atau wanita. Maka Islam mengajar cara-cara yang berbagai demi menyelamatkan rumah tangga dari talak. Jika gagal, Islam juga mengajar talak untuk mengelakkan kezaliman berlaku antara salah satu pihak; suami atau isteri. Firman Allah: (maksudnya)
“Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu) kemudian mereka (hampir) habis tempoh idahnya maka bolehlah kamu pegang mereka (rujuk) dengan cara yang baik atau lepaskan mereka dengan cara yang baik. dan janganlah kamu pegang mereka (rujuk semula) dengan tujuan memberi mudarat, kerana kamu hendak melakukan kezaliman (terhadap mereka); dan sesiapa yang melakukan demikian maka sesungguhnya dia menzalimi dirinya sendiri. dan janganlah kamu menjadikan ayat-ayat hukum Allah itu sebagai ejek-ejekan (dan permainan). dan kenanglah nikmat Allah yang diberikan kepada kamu, (dan kenanglah) apa yang diturunkan kepada kamu Iaitu Kitab (Al-Quran) dan hikmat, untuk memberi pengajaran kepada kamu dengannya. dan bertaqwalah kepada Allah serta ketahuilah: sesungguhnya Allah Maha mengetahui akan tiap-tiap sesuatu” (Surah al-Baqarah, ayat 231).
Jika penerusan perkahwinan hanya memberi mudarat kepada pasangan, maka talak itu disuruh oleh al-Quran. Malanglah kaum wanita yang sepatutnya telah dikeluarkan oleh al-Quran dari kezaliman atau kemudaratan si suami, tiba-tiba terjatuh dalam kezaliman batin akibat proses birokrasi mahkamah yang bernama syariah.
Maka, wanita hari ini ada yang terseksa batinnya kerana menunggu proses mahkamah yang kadang-kala memakan masa bertahun-tahun. Bagaimana mungkin isteri yang sudah tujuh lapan tahun suaminya tidak mengambil tahu soal nafkah zahir dan batin tetap disahkan oleh mahkamah bahawa dia masih suami sekalipun isteri berulang meminta dipisahkan. Kata Dr Karim ‘Abd al-Karim Zaidan menyebut:
“Jika suami gagal menunaikan nafkah untuk isteri, kadi memisah antara mereka jika isteri memilih untuk berpisah…Hal ini diriwayatkan dari sejumlah para sahabat dan tabi’in” (al-Mufassal, 7/217).
Beliau juga memetik apa yang disebut oleh al-Dardir dalam al-Syarh al-Kabir: “Bagi isteri boleh menuntut dipisahkan dari suami disebabkan mudarat yang dilakukannya; iaitu apa yang tidak diizinkan oleh syarak untuk dia buat seperti meninggalkan isteri atau memukulnya tanpa sebab dibenarkan syarak. Atau memaki dia atau bapanya seperti menyebut: Wahai anak anjing, atau wahai anak kafir! Atau wahai anak orang yang dilaknat”.
Dr Zaidan seterusnya memetik apa yang disebut oleh al-Imam Ibn Taimiyyah:
“Maka dianggap memberi mudarat kepada isteri yang boleh dipisah (dipasakh) apabila suami meninggalkan persetubuhan dalam apa keadaan sekalipun. Samada suami sengaja atau tidak sengaja”. (ibid 8/439).
Semua perbahasan yang begitu banyak boleh didapati dalam khazanah Islam itu menggambarkan rumahtangga untuk kebahagiaan hidup insan bukan untuk kedukaan mereka. Jika rumahtangga itu mengundang kedukaan, insan diberi peluang keluar oleh syarak untuk keluar dari daerah itu dengan segera. Malanglah, jika pintu keluar itu dihalang oleh kerenah biorokrasi mahkamah. Hakim barang kali ringan lidahnya menyebut: “kita tangguhkan perbicaraan kerana suami tidak hadir” sedangkan kesan jiwa begitu besar dan berat ditanggung oleh isteri.
Sebenarnya dalam Islam, jalan kepada halal dan kebahagian dibuka dengan begitu luas dan mudah. Dukacita, jika atas nama agama kita menyusahkan jalan yang halal dan dalam masa yang sama ada pula pihak-pihak lain yang memudahkan jalan yang haram. Perlaksanaan agama hendaklah bukan sahaja mendakwa adil, tetapi hendaklah juga kelihatan adil.
Sumber : drmaza.com
Wednesday, November 19, 2008
Bagaimana Menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Tasyahud?
Syaikh al-Muhaddits Abu Ishaq al-Huwaini
Intisari video :
Syaikh al-Muhaddits Abu Ishaq al-Huwaini hafizhahullahu menjelaskan
tentang sifat tahrikul ishba' (menggerakkan jari telunjuk). Beliau
menceritakan bahwa pada suatu hari Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini sholat
di samping syaikh al-Albani rahimahullahu dan Syaikh Abu Ishaq
menggerakkan jari telunjuknya naik dan turun. Selesai sholat, Syaikh
al-Albani bertanya : "apakah anda pernah membaca suatu riwayat yang
menjelaskan tentang gerakan telunjuk seperti itu (naik dan turun)?".
Syaikh Abu Ishaq menjawab yang intinya beliau membacanya dan
mengetahuinya dari buku Syaikh al-Albani (Sifat Sholat an-Nabi).
Lantas Syaikh Abu Ishaq menceritakan, bahwa Syaikh al-Albani
menyatakan bahwa apa yang dilakukan Syaikh Abu Ishaq bukanlah tahrik
(menggerakkan) , namun itu adalah al-Khofdh war Raf'u (menurunkan dan
menaikkan). Sifat Tahrik yang benar, kata Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini
sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh al-Albani adalah, mengarahkan jari
telunjuk ke arah kiblat, kemudian menggerak-gerakkann ya secara ringan
pada tempatnya (yaitu tidak menaik-turunkannya) sebagaimana tampak
pada gambar video di atas. Demikianlah sifat menggerakkan jari
telunjuk sebagaimana yang dilihat Syaikh Abu Ishaq dari guru beliau,
Syaikh al-Albani rahimahullahu.
Allohu a'lam.
Sumber: abusalma.wordpress.com/2008/11/18/video-sifat-gerakan-telunjuk-ketika-tasyahhud
Thursday, November 13, 2008
Oleh: Dr. Yusuf al-Qardhawy
Sumber: Media Isnet
Sumber: al-fikrah.net/News/article/sid=165.html
Yang dimaksud dengan “Pemikiran Salafi” di sini ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW.
Kriteria Manhaj Salafi yang Benar
Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :
1. Berpegang pada nash-nash yang ma’shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
2. Mengembalikan masalah-masalah “mutasyabihat” (yang kurang jelas) kepada masalah “muhkamat” (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath’i.
3. Memahami kasus-kasus furu’ (kecil) dan juz’i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
4. Menyerukan “Ijtihad” dan pembaruan. Memerangi “Taqlid” dan kebekuan.
Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.
5. Dalam masalah fiqh, berorientasi pada “kemudahan” bukan “mempersulit”.
6. Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.
7. Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
8. Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
9. Menekankan sikap “ittiba’” (mengikuti) dalam masalah agama.
10. Dan menanamkan semangat “ikhtira’” (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.
Inilah inti “manhaj salafi” yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan “negara ilmu dan Iman”. Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.
Citra “Salafiah” Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra
Istilah “Salafiah” telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap “salafiah”. Orang-orang yang pro-salafiah - baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah - telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda “debat” dan “polemik”, bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan “Salafiah” ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.
Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini “terbelakang”, senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.
Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan “salafiah” dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan”pembaruan Islam” pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.
Mereka telah menumpas faham “taqlid”, “fanatisme madzhab” fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi “ashobiyah madzhabiyah” ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah “Raf’l - malaam ‘anil - A’immatil A’lam” karya Ibnu Taimiyah.
Demikian gencar serangan mereka terhadap “tasawuf” karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab “Al-Hulul Wal-Ittihad” (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan “tasawuf” untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari “Majmu’ Fatawa” karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah “Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, dalam tiga jilid.
Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan Mereka
Yang perlu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah suatu hal y ang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz’i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan ijtihad mereka.
Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya telah terperangkap dalam “taqlid” yang baru. Dan berarti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karenanya. Yaitu manhaj “nalar” dan “mengikuti dalil”. Melihat setiap pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim
Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata: “Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia”.
Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: “Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid”.
Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikian pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.
Namun, orang seringkali melupakan, sisi “dakwah” dan “jihad” dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna “Salafiah” yang sesungguhnya.
Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol mendakwahkan “salafiah”, dan paling gigih mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa missi “salafiah”, ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah “Al-Manar’ yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa “bendera” salafiah ini, menulis Tafsir “Al-Manar” dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.
Rasyid Ridha adalah seorang “pembaharu” (mujaddid) Islam pada masanya. Barangsiapa membaca “tafsir”nya, sperti : “Al-Wahyu Al-Muhammadi”, “Yusrul-Islam”, “Nida’ Lil-Jins Al-Lathief”, “Al-Khilafah”, “Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqollid” dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan “Manar” (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran “salafiah”nya.
Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah “emas” yang terkenal dan belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah :
“Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat.”
Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang meng-klaim dirinya sebagai “pengikut Salaf”.
____________________________
(disalin dari buku “Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qodimah” karya Dr.Yusuf Al Qordhowi, edisi terjemahan Penerbit Usamah Press)
Sumber: Media Isnet
Sumber: al-fikrah.net/News/article/sid=165.html
Yang dimaksud dengan “Pemikiran Salafi” di sini ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW.
Kriteria Manhaj Salafi yang Benar
Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :
1. Berpegang pada nash-nash yang ma’shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
2. Mengembalikan masalah-masalah “mutasyabihat” (yang kurang jelas) kepada masalah “muhkamat” (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath’i.
3. Memahami kasus-kasus furu’ (kecil) dan juz’i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
4. Menyerukan “Ijtihad” dan pembaruan. Memerangi “Taqlid” dan kebekuan.
Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.
5. Dalam masalah fiqh, berorientasi pada “kemudahan” bukan “mempersulit”.
6. Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.
7. Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
8. Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
9. Menekankan sikap “ittiba’” (mengikuti) dalam masalah agama.
10. Dan menanamkan semangat “ikhtira’” (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.
Inilah inti “manhaj salafi” yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan “negara ilmu dan Iman”. Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.
Citra “Salafiah” Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra
Istilah “Salafiah” telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap “salafiah”. Orang-orang yang pro-salafiah - baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah - telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda “debat” dan “polemik”, bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan “Salafiah” ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.
Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini “terbelakang”, senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.
Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan “salafiah” dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan”pembaruan Islam” pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.
Mereka telah menumpas faham “taqlid”, “fanatisme madzhab” fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi “ashobiyah madzhabiyah” ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah “Raf’l - malaam ‘anil - A’immatil A’lam” karya Ibnu Taimiyah.
Demikian gencar serangan mereka terhadap “tasawuf” karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab “Al-Hulul Wal-Ittihad” (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan “tasawuf” untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari “Majmu’ Fatawa” karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah “Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, dalam tiga jilid.
Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan Mereka
Yang perlu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah suatu hal y ang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz’i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan ijtihad mereka.
Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya telah terperangkap dalam “taqlid” yang baru. Dan berarti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karenanya. Yaitu manhaj “nalar” dan “mengikuti dalil”. Melihat setiap pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim
Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata: “Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia”.
Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: “Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid”.
Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikian pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.
Namun, orang seringkali melupakan, sisi “dakwah” dan “jihad” dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna “Salafiah” yang sesungguhnya.
Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol mendakwahkan “salafiah”, dan paling gigih mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa missi “salafiah”, ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah “Al-Manar’ yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa “bendera” salafiah ini, menulis Tafsir “Al-Manar” dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.
Rasyid Ridha adalah seorang “pembaharu” (mujaddid) Islam pada masanya. Barangsiapa membaca “tafsir”nya, sperti : “Al-Wahyu Al-Muhammadi”, “Yusrul-Islam”, “Nida’ Lil-Jins Al-Lathief”, “Al-Khilafah”, “Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqollid” dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan “Manar” (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran “salafiah”nya.
Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah “emas” yang terkenal dan belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah :
“Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat.”
Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang meng-klaim dirinya sebagai “pengikut Salaf”.
____________________________
(disalin dari buku “Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qodimah” karya Dr.Yusuf Al Qordhowi, edisi terjemahan Penerbit Usamah Press)
al-Qaradhawi : Siapa kata Assyaerah sesat
Penulis: Khairol Amin (Kamin), Panel www.al-ahkam.net - kaminms@gmail.com
Disusun semula & diedit bahasa dari ruangan soal-jawab dengan izin penulis oleh: Abu Ismail - fathi_ali1427h@yahoo.com
Aqidah Assyaerah dikaitkan pengasasnya Abu Hasan Assya'ri, yang sebelum itu berpegang kepada aqidah Muktazilah, dan selepasnya mengikut fahaman Ahli Sunnah wa al-Jamaah pada peringkat akhir hidupnya, sebagaimana didapati dalam salah satu buku terakhirnya al-Ibanah. Ia diasaskan dengan kaedah beriman dengan Sifat Allah yang sesuai dengan dirinya, takwil maknanya, dan melarang sesuatu menyerupainya. Aqidah ini diterima ramai dikalangan orang Islam.
Perselisihan yang timbul adalah berkenaan dengan mengtakwil sifat-sifat Allah swt, Dikaitkan perselisihan diantara Aqidah Salaf dan Aqidah Khalaf. Apakah mereka ini sesat atau kafir? Syeikh Dr Yusuf al-Qaradhawi mengatakan bahawa :
" walaupun saya cenderung kepada pandangan salaf mengenai isu sifat, tetapi saya tidak mengkafir, menyesatkan dan menganggap kaum Khalaf sebagai berdosa kerana melakukan takwil. Sesungguhnya khilaf itu berpunca didalam isu bahasa arab dan memahami nas-nas Quran dan Sunnah''
Bagi al-Qaradhawi, tidak dipertikaikan, bahawa ulama'-ulama' yang melakukan takwil merupakan mereka yang tidak diragukan keikhlasan dan nasihat mereka, kerana Allah dan Rasulnya.,Mereka beriman dengan sifat Allah yang Maha Sempurna dan Suci dari segala kekurangan. Mereka beriman dengan Nabi-Nabi, Hari Akhirat dan al-Quran sebagai firman Allah yang tidak ada kebatilan. Oleh itu, berdasarkan ilmu, jtihad dan pemahaman mereka terdapat bidang aqidah, maka tidak pelik mereka berbeza pandangan tentang hal itu.,
Kata al-Syiekh lagi, setiap orang yang berilmu yang melakukan ijtihad dalam agama Allah dan mencari kebenaran. Ijtihad adalah perkara yang maklum didalam agama Islam. Mereka akan memperolehi satu atau dua pahala. Satu pahala jika dia tersilap, dan dua pahala jika mereka benar, Tidak ada permasalahan ilmiyyah dan amaliyyah, serta perkara usuliyyah dan furu'iyah. Sebagaimana pekara tersebut telah dijelaskan oleh Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim dan lain-lain.
Selanjutnya syiekh menyebut bahawa perbezaan ini bukanlah sesuatu yang sangat besar sebagaimana yang digambarkan.
Syiekh Faizal al-Moulawi, Naib Pengerusi Majlis Fatwa Eropah kita ketika ditanya mengenai pandangan al-Qardhawi terhadap Asyaerah, beliau mengatakan :
أمّا أستاذنا الشيخ يوسف القرضاوي فهو كما نعلم على عقيدة السلف التي تقوم على الإيمان بصفات الله التي وصف بها نفسه بغير تأويل ولا تعطيل. وهو لا ينكر عقيدة الأشاعرة، بل يعتبرها صحيحة مقبولة إن شاء الله، لكن عقيدة السلف أصحّ منها.
"Bagi Ustaz kami, al-Syiekh al-Qardhawi dia sebagaimana yang kami tahu berpegang kepada aqidah salaf yang berdiri diatas beriman kepada sifat-sifat Allah, sebagaimana dia mensifatkan diriNya, tanpa Takwil dan Ta'thil. Dia tidak menginkari Aqidah Asyaerah, bahkan aqidahnya masih dianggap sahih diterima Allah, Insya-Allah. Akan tetapi aqidah salaf bagi beliau adalah lebih benar". [rujuk Fatwa IslamOnline]
Dua manhaj ini berbeza dari segi pengistilahan dan pentafsiran kepada al-Quran dan Sunnah Nabi . Kumpulan Asyaerah sudah banyak berjuang dalam membersihkan sifat-sifat Allah dari ahli-ahli kalam dan falsafah pada zaman itu. Ini merupakan pandangan dan ijitihad masing-masing. Yang amat ditegah adalah berlebih-lebihan dalam mentakwilkan sifat-sifat Allah berdasarkan akal fikiran mereka.
Tidak ada perbezaan yang besar diantara Khalaf dan Salaf
Syiekh Rashid Ridha menjelaskan bahawa sebenarnya tidak wujud permasalahan pun dalam aqidah ini. Bagi beliau, nama-nama dan sifat-sifat yang Allah nyatakan, adalah istilah-istilah yang digunakan oleh Makhluk. Sebabnya jika Allah SWT melafazkan sifat-sifatnya dalam bentuk khusus, nescaya ia sedikitpun tidak akan difahami oleh manusia.
Menurut al-Qaradhawi, permasalahan ini perlu dilihat dengan teliti dan penuh kesabaran, tanpa melakukan keputusan atau tindakan yang tergesa-gesa. Bagi beliau, jika dilihat perbahasan yang dibuat oleh ahli tahqiq, bahawasanya terdapat DUA persamaan penting didalam dua aqidah ini:-
Pertama:
Dua golongan yang disebut adalah kaum SALAF dan kaum KHALAF, ahli Hadith dan ahli Kalam, ia itu orang yang melakukan TAFWIDH dan TAKWIL, atau boleh dikatakan mereka yang melakukan ITSBAT dan TAKWIL berasaskan MEMBESARKAN, MEMULIAKAN dan MENSUCIKAN ALLAH. Allah memiliki sifat sempurna yang memang layak baginya, serta tidak memiliki sifat-sifat kekurangan yang tidak layak baginya.
Kedua-dua golongan ini berpendapat bahawa sikap ini adalah aqidah yang sebenar! Tidak diragui dan tidak diperselisihkan.
Mengambil Ijtihad dan tujuan Mensucikan Allah dalam sifat-sifatnya, maka mereka MENAFIKAN sifat-sifat tersebut. Mereka membersihkan sifat Allah dari perkara-perkara yang tidak berasal dari Islam, baik dari pengaruh agama lain dan pemikiran falsafah.
Ahli-Ahli hadith atau kaum salaf mendahulukan kaedah pengagungan kepada Allah SWT, al-Quran dan hadith-hadith Nabi SAW. Mereka membiarkan hal demikian sesuai dengan sebagaimana Allah mensifatkan dirinya.
Ahli Kalam pula mendahulukan kaedah pengagungan pensucian dan menafikan penyerupaan kepada Allah swt, dengan cara melakukan takwil. Mereka ingin menafikan segala kekurangan den penyerupaan terhadap Allah SWT.
Kedua:
Jika dilihat secara mendalam, kedua-dua pihak ini melakukan TAKWIL. Cuma bezanya, ahli hadith melakukan TAKWIL IJMALI dan ahli kalam melakukan TAKWIL TAFSHILI.
Contohnya didalam ayat al-Quran yang menyetakan tentang tangan-tangan Allah swt eg:
- "Tangan Allah diatas tangan mereka" [al-Fath : 10]
- "Padahal, kedua tangan Allah terbuka" [al-Maa'idah : 64]
- "Yang telah kuciptakan dengan kedua tanganKu" [Shaad :75]
Kaum Salaf menjelaskan bahawa : Allah mempunyai tangan tetapi tidak sama dengan tangan kita. Ini merupakan satu bentuk takwil. Sebab apa yang difahami menurut bahasa arab bahawa 'tangan' adalah sebahagian dari anggota badan, Jika tangan tersebut dinafikan, dan Tangan Allah tidak sama dengan tangan makhluk, maka tidak dapat tidak ia merupakan satu keadah takwilan, atau TAKWIL IJMALI yang tidak disebut sebagai takwil.
Ahli takwil misalnya melarang manusia mengatakan Allah di langit kerana ingin mensucikan sifat-sifat Allah SWT. Begitu juga ahli hadith melarang mempersoalkan makna "Allah di atas langit" dengan bermaksud beriman dengan sifat Allah sebagaimana ia mensifatkan dirinya. Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim mengatakan bahawa ARAH (di atas, kiri, kanan, bawah) membawa maksud dinisbahkan, dan bukan hakikat, Ini juga yang di maksudkan takwilan dari aspek yang berlainan. WA.
Syiekh al-Qaradhawi menyatakan bahawa manhaj takwil merupakan anutan jumhur umat Islam. Mereka melakukan takwil sesuai dengan kehendak akal, dan bukan sebab mereka kurang pengetahuan agama. Dikalangan mereka merupakan Imam-Imam yang terbilang didalam agama Islam. Mereka ini terdiri dari pengikut Asya'ari, pengikut Imam Malik, pengikut Imam al-Syafie, beberapa dikalangan pengikut Mathuridiyyah dan juga Imam Hanafi. Begitu juga dengan kebanyakkan mufassirin (ahli tafsir) merupakan ahli takwil; termasuklah al-Qurthubi. al-Baidhawi, al-Alusi, Sayid Qutb, al-Maraghi, al-Syabuni dan ramai lagi.
Bahkan al-Qaradhawi berpendapat bahawa Ibn Jarir al-Thabari dan Ibn Kathir melakukan takwil kepada beberapa ayat-ayat sifat.
al-Qaradhawi memilih penggunaan takwil jika tafsirannya hampir dan boleh diterima pakai. Pendapat demikian dipilih oleh Ibn Abdissalam dan Ibn Daqiq Al-Id. Mereka akan memilih pandangan salaf jika takwil itu tidak sampai dan tidak boleh diterima.
Lebih-lebih lagi pada zaman sekarang, takwil seperti ini diperlukan apabila melakukan penterjemahan al-Quran kepada bahasa-bahasa selain daripada Arab. Ada pengistilahan yang tidak boleh didiamkan lebih-lebih lagi kepada orang asing yang memerlukan penjelasan.
Beberapa Contoh Takwil dari kaum Salaf [imam Ibn Katsir]:
Berikut adalah beberapa contoh beberapa penggunaan takwil yang dilakukan oleh Ibn Kathir rh.
1. Maksud TANGAN :-
a. Firman Allah swt :-
قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ
"...Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya limpah kurnia itu adalah di tangan Allah,..." [Aa-Imran : 73].
Berkata Ibn Kathir :
أَيْ الْأُمُور كُلّهَا تَحْت تَصَرُّفه وَهُوَ الْمُعْطِي الْمَانِع يَمُنَّ عَلَى مَنْ يَشَاء بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْم وَالتَّصَرُّف التَّامّ وَيُضِلّ مَنْ يَشَاء فَيُعْمِي بَصَرَهُ وَبَصِيرَته وَيَخْتِم عَلَى قَلْبه وَسَمْعِهِ وَيَجْعَل عَلَى بَصَره غِشَاوَة وَلَهُ الْحُجَّة التَّامَّة وَالْحِكْمَة الْبَالِغَة .
"Maksudnya semua perkara dibawah perlaksanaannya, dia menahan dan memberi kepada sesiapa yang dia kehendaki, dengan Iman dan Ilmu dan seluruhan perlaksanaannya kepada sesiapa yang dia kehendaki, menyesatkan, membutakan penglihatan, menutup hati dan pendengaran, dan menjadikan penglihatan mereka kelabu, dan kepadanya yang mempunyai hujah yang sempurna dan hikmah yang agung"
b. Firman Allah swt :-
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ
"Dan orang-orang Yahudi itu berkata: "Tangan Allah terbelenggu" " [al-Maaidah : 64]
Berkata Ibn Kathir :
وَقَالَ عَلِيّ بْن أَبِي طَلْحَة : عَنْ اِبْن عَبَّاس قَوْله وَقَالَتْ الْيَهُود يَد اللَّه مَغْلُولَة قَالَ لَا يَعْنُونَ بِذَلِكَ أَنَّ يَد اللَّه مُوثَقَة وَلَكِنْ يَقُولُونَ بَخِيل يَعْنِي أَمْسَكَ مَا عِنْده بُخْلًا تَعَالَى اللَّه عَنْ قَوْلهمْ عُلُوًّا كَبِيرًا
''Berkata Ali bin Abi Thahah : dari Ibn Abbas, (Firman Allah) - "Dan orang-orang Yahudi itu berkata: "Tangan Allah terbelenggu" , dia berkata bahawa tidak bermaksud tangan Alah terbelenggu, akan tetapi BAKHIL, yakni dia menahan dari memberi perkara yang dia miliki (dia bakhil), Maha Suci Tuhan dari perkataan mereka dengan setinggi-tingginya"
2. maksud DEKAT.
a. Firman Allah swt :-
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
"Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, " - [Qaf : 16]
Berkata Ibn Kathir rh :-
يَعْنِي مَلَائِكَته تَعَالَى أَقْرَبُ إِلَى الْإِنْسَان مِنْ حَبْل وَرِيده إِلَيْهِ وَمَنْ تَأَوَّلَهُ عَلَى الْعِلْم فَإِنَّمَا فَرَّ لِئَلَّا يَلْزَمُ حُلُولٌ أَوْ اِتِّحَادٌ وَهُمَا مَنْفِيَّانِ بِالْإِجْمَاعِ تَعَالَى اللَّهُ وَتَقَدَّسَ وَلَكِنَّ اللَّفْظ لَا يَقْتَضِيه فَإِنَّهُ لَمْ يَقُلْ وَأَنَا أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْل الْوَرِيد وَإِنَّمَا قَالَ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْل الْوَرِيد
"Maksudnya MALAIKAT lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya, dan jika seseorang mentakwil dengan ilmu maka dia telah terselamat (escape) dari tidak melakukan HULUL (kesatuan/union) atau ITTIHAAD. Kedua konsep ini DITOLAK secara total dengan KETINGGIAN dan KESUCIAN Allah, akan tetapi Lafaz juga tidak menunjukkan perkara tersebut, dia (Allah) tidak mengatakan : Aku lebih dekat padanya dari urat leher mereka, tetapi lebih dekat padanya dari urat leher mereka". Perkataan kami di takwilkan kepada malaikat. Begitu juga dengan surah al-Waqi'ah ayat 85, beliau menyebut bahawa sebagaimana Ibn Taimiyah mentafsirkan kami sebagai malaikat.
3. maksud BERSAMA :-
a. Firman Allah swt :-
قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
"Allah berfirman: Janganlah kamu takut, sesungguhnya Aku ada bersama-sama kamu; Aku mendengar dan melihat segala-galanya. "
Berkata Ibn Kathir :-
أَيْ لَا تَخَافَا مِنْهُ فَإِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَع كَلَامكُمَا وَكَلَامه وَأَرَى مَكَانكُمَا وَمَكَانه لَا يَخْفَى عَلَيَّ مِنْ أَمْركُمْ شَيْء وَاعْلَمَا أَنَّ نَاصِيَته بِيَدِي فَلَا يَتَكَلَّم وَلَا يَتَنَفَّس وَلَا يَبْطِش إِلَّا بِإِذْنِي وَبَعْد أَمْرِي وَأَنَا مَعَكُمَا بِحِفْظِي وَنَصْرِي وَتَأْيِيدِي
"ia itu : kamu berdua yang takut, kerana sesungguhnya Aku bersama kamu mendengar perkataan kamu dan perkataannya, dan melihat tempat kamu dan tempatnya, Tidak ada sesuatu yang lupt dariKu, dan ketahuilah bahawa ubun-ubunnya berada ditanganKu, maka tidak akan berkata-kata, bernafas, kekuatan, melainkan dengan izinku serta pemerintahanku, dan aku bersama kamu menjaga, memberi pertolongan dan menyokong kamu"
b. Firman Allah swt :-
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
"Dia tetap bersama-sama kamu di mana sahaja kamu berada" [surah al-Hadid : 4]
Berkata Ibn Kathir :-
أَيْ رَقِيب عَلَيْكُمْ شَهِيد عَلَى أَعْمَالكُمْ حَيْثُ كُنْتُمْ وَأَيْنَمَا كُنْتُمْ
"iaitu di menguasai kamu didalam pekerjaan kamu dimana sahaja kamu dan dimana sahaja kamu berada"
Bersama disini membawa maksud pengawasan Allah terhadap manusia.
Demikian merupakan beberapa petikan yang diambil dari buku al-Qardhawi yang merujuk kepada tafsir Ibn Kathiri aitu Tafsir al-Quran al-Azhim, yang jelas menunjukkan Ibn Kathir yang bermanhaj salaf ada mentakwil ayat al-Quran, dan boleh diterima pakai penakwilannya.
Sekian, wassalam
Mohd Khairol Amin
Rujukan penulis:
1. Syiekh Dr. Yusuf al-Qaradhawi. Fushul fi al-Aqidati baina al-Salafi wa al-Khalafi. Kaherah : Maktabah Wahbah, 2005. ms 144-148.
2. al-Qaradhawi dan Aysaerah- القرضاوي والأشاعرة
http://www.islamonline.net/
Disusun semula & diedit bahasa dari ruangan soal-jawab dengan izin penulis oleh: Abu Ismail - fathi_ali1427h@yahoo.com
Aqidah Assyaerah dikaitkan pengasasnya Abu Hasan Assya'ri, yang sebelum itu berpegang kepada aqidah Muktazilah, dan selepasnya mengikut fahaman Ahli Sunnah wa al-Jamaah pada peringkat akhir hidupnya, sebagaimana didapati dalam salah satu buku terakhirnya al-Ibanah. Ia diasaskan dengan kaedah beriman dengan Sifat Allah yang sesuai dengan dirinya, takwil maknanya, dan melarang sesuatu menyerupainya. Aqidah ini diterima ramai dikalangan orang Islam.
Perselisihan yang timbul adalah berkenaan dengan mengtakwil sifat-sifat Allah swt, Dikaitkan perselisihan diantara Aqidah Salaf dan Aqidah Khalaf. Apakah mereka ini sesat atau kafir? Syeikh Dr Yusuf al-Qaradhawi mengatakan bahawa :
" walaupun saya cenderung kepada pandangan salaf mengenai isu sifat, tetapi saya tidak mengkafir, menyesatkan dan menganggap kaum Khalaf sebagai berdosa kerana melakukan takwil. Sesungguhnya khilaf itu berpunca didalam isu bahasa arab dan memahami nas-nas Quran dan Sunnah''
Bagi al-Qaradhawi, tidak dipertikaikan, bahawa ulama'-ulama' yang melakukan takwil merupakan mereka yang tidak diragukan keikhlasan dan nasihat mereka, kerana Allah dan Rasulnya.,Mereka beriman dengan sifat Allah yang Maha Sempurna dan Suci dari segala kekurangan. Mereka beriman dengan Nabi-Nabi, Hari Akhirat dan al-Quran sebagai firman Allah yang tidak ada kebatilan. Oleh itu, berdasarkan ilmu, jtihad dan pemahaman mereka terdapat bidang aqidah, maka tidak pelik mereka berbeza pandangan tentang hal itu.,
Kata al-Syiekh lagi, setiap orang yang berilmu yang melakukan ijtihad dalam agama Allah dan mencari kebenaran. Ijtihad adalah perkara yang maklum didalam agama Islam. Mereka akan memperolehi satu atau dua pahala. Satu pahala jika dia tersilap, dan dua pahala jika mereka benar, Tidak ada permasalahan ilmiyyah dan amaliyyah, serta perkara usuliyyah dan furu'iyah. Sebagaimana pekara tersebut telah dijelaskan oleh Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim dan lain-lain.
Selanjutnya syiekh menyebut bahawa perbezaan ini bukanlah sesuatu yang sangat besar sebagaimana yang digambarkan.
Syiekh Faizal al-Moulawi, Naib Pengerusi Majlis Fatwa Eropah kita ketika ditanya mengenai pandangan al-Qardhawi terhadap Asyaerah, beliau mengatakan :
أمّا أستاذنا الشيخ يوسف القرضاوي فهو كما نعلم على عقيدة السلف التي تقوم على الإيمان بصفات الله التي وصف بها نفسه بغير تأويل ولا تعطيل. وهو لا ينكر عقيدة الأشاعرة، بل يعتبرها صحيحة مقبولة إن شاء الله، لكن عقيدة السلف أصحّ منها.
"Bagi Ustaz kami, al-Syiekh al-Qardhawi dia sebagaimana yang kami tahu berpegang kepada aqidah salaf yang berdiri diatas beriman kepada sifat-sifat Allah, sebagaimana dia mensifatkan diriNya, tanpa Takwil dan Ta'thil. Dia tidak menginkari Aqidah Asyaerah, bahkan aqidahnya masih dianggap sahih diterima Allah, Insya-Allah. Akan tetapi aqidah salaf bagi beliau adalah lebih benar". [rujuk Fatwa IslamOnline]
Dua manhaj ini berbeza dari segi pengistilahan dan pentafsiran kepada al-Quran dan Sunnah Nabi . Kumpulan Asyaerah sudah banyak berjuang dalam membersihkan sifat-sifat Allah dari ahli-ahli kalam dan falsafah pada zaman itu. Ini merupakan pandangan dan ijitihad masing-masing. Yang amat ditegah adalah berlebih-lebihan dalam mentakwilkan sifat-sifat Allah berdasarkan akal fikiran mereka.
Tidak ada perbezaan yang besar diantara Khalaf dan Salaf
Syiekh Rashid Ridha menjelaskan bahawa sebenarnya tidak wujud permasalahan pun dalam aqidah ini. Bagi beliau, nama-nama dan sifat-sifat yang Allah nyatakan, adalah istilah-istilah yang digunakan oleh Makhluk. Sebabnya jika Allah SWT melafazkan sifat-sifatnya dalam bentuk khusus, nescaya ia sedikitpun tidak akan difahami oleh manusia.
Menurut al-Qaradhawi, permasalahan ini perlu dilihat dengan teliti dan penuh kesabaran, tanpa melakukan keputusan atau tindakan yang tergesa-gesa. Bagi beliau, jika dilihat perbahasan yang dibuat oleh ahli tahqiq, bahawasanya terdapat DUA persamaan penting didalam dua aqidah ini:-
Pertama:
Dua golongan yang disebut adalah kaum SALAF dan kaum KHALAF, ahli Hadith dan ahli Kalam, ia itu orang yang melakukan TAFWIDH dan TAKWIL, atau boleh dikatakan mereka yang melakukan ITSBAT dan TAKWIL berasaskan MEMBESARKAN, MEMULIAKAN dan MENSUCIKAN ALLAH. Allah memiliki sifat sempurna yang memang layak baginya, serta tidak memiliki sifat-sifat kekurangan yang tidak layak baginya.
Kedua-dua golongan ini berpendapat bahawa sikap ini adalah aqidah yang sebenar! Tidak diragui dan tidak diperselisihkan.
Mengambil Ijtihad dan tujuan Mensucikan Allah dalam sifat-sifatnya, maka mereka MENAFIKAN sifat-sifat tersebut. Mereka membersihkan sifat Allah dari perkara-perkara yang tidak berasal dari Islam, baik dari pengaruh agama lain dan pemikiran falsafah.
Ahli-Ahli hadith atau kaum salaf mendahulukan kaedah pengagungan kepada Allah SWT, al-Quran dan hadith-hadith Nabi SAW. Mereka membiarkan hal demikian sesuai dengan sebagaimana Allah mensifatkan dirinya.
Ahli Kalam pula mendahulukan kaedah pengagungan pensucian dan menafikan penyerupaan kepada Allah swt, dengan cara melakukan takwil. Mereka ingin menafikan segala kekurangan den penyerupaan terhadap Allah SWT.
Kedua:
Jika dilihat secara mendalam, kedua-dua pihak ini melakukan TAKWIL. Cuma bezanya, ahli hadith melakukan TAKWIL IJMALI dan ahli kalam melakukan TAKWIL TAFSHILI.
Contohnya didalam ayat al-Quran yang menyetakan tentang tangan-tangan Allah swt eg:
- "Tangan Allah diatas tangan mereka" [al-Fath : 10]
- "Padahal, kedua tangan Allah terbuka" [al-Maa'idah : 64]
- "Yang telah kuciptakan dengan kedua tanganKu" [Shaad :75]
Kaum Salaf menjelaskan bahawa : Allah mempunyai tangan tetapi tidak sama dengan tangan kita. Ini merupakan satu bentuk takwil. Sebab apa yang difahami menurut bahasa arab bahawa 'tangan' adalah sebahagian dari anggota badan, Jika tangan tersebut dinafikan, dan Tangan Allah tidak sama dengan tangan makhluk, maka tidak dapat tidak ia merupakan satu keadah takwilan, atau TAKWIL IJMALI yang tidak disebut sebagai takwil.
Ahli takwil misalnya melarang manusia mengatakan Allah di langit kerana ingin mensucikan sifat-sifat Allah SWT. Begitu juga ahli hadith melarang mempersoalkan makna "Allah di atas langit" dengan bermaksud beriman dengan sifat Allah sebagaimana ia mensifatkan dirinya. Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim mengatakan bahawa ARAH (di atas, kiri, kanan, bawah) membawa maksud dinisbahkan, dan bukan hakikat, Ini juga yang di maksudkan takwilan dari aspek yang berlainan. WA.
Syiekh al-Qaradhawi menyatakan bahawa manhaj takwil merupakan anutan jumhur umat Islam. Mereka melakukan takwil sesuai dengan kehendak akal, dan bukan sebab mereka kurang pengetahuan agama. Dikalangan mereka merupakan Imam-Imam yang terbilang didalam agama Islam. Mereka ini terdiri dari pengikut Asya'ari, pengikut Imam Malik, pengikut Imam al-Syafie, beberapa dikalangan pengikut Mathuridiyyah dan juga Imam Hanafi. Begitu juga dengan kebanyakkan mufassirin (ahli tafsir) merupakan ahli takwil; termasuklah al-Qurthubi. al-Baidhawi, al-Alusi, Sayid Qutb, al-Maraghi, al-Syabuni dan ramai lagi.
Bahkan al-Qaradhawi berpendapat bahawa Ibn Jarir al-Thabari dan Ibn Kathir melakukan takwil kepada beberapa ayat-ayat sifat.
al-Qaradhawi memilih penggunaan takwil jika tafsirannya hampir dan boleh diterima pakai. Pendapat demikian dipilih oleh Ibn Abdissalam dan Ibn Daqiq Al-Id. Mereka akan memilih pandangan salaf jika takwil itu tidak sampai dan tidak boleh diterima.
Lebih-lebih lagi pada zaman sekarang, takwil seperti ini diperlukan apabila melakukan penterjemahan al-Quran kepada bahasa-bahasa selain daripada Arab. Ada pengistilahan yang tidak boleh didiamkan lebih-lebih lagi kepada orang asing yang memerlukan penjelasan.
Beberapa Contoh Takwil dari kaum Salaf [imam Ibn Katsir]:
Berikut adalah beberapa contoh beberapa penggunaan takwil yang dilakukan oleh Ibn Kathir rh.
1. Maksud TANGAN :-
a. Firman Allah swt :-
قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ
"...Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya limpah kurnia itu adalah di tangan Allah,..." [Aa-Imran : 73].
Berkata Ibn Kathir :
أَيْ الْأُمُور كُلّهَا تَحْت تَصَرُّفه وَهُوَ الْمُعْطِي الْمَانِع يَمُنَّ عَلَى مَنْ يَشَاء بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْم وَالتَّصَرُّف التَّامّ وَيُضِلّ مَنْ يَشَاء فَيُعْمِي بَصَرَهُ وَبَصِيرَته وَيَخْتِم عَلَى قَلْبه وَسَمْعِهِ وَيَجْعَل عَلَى بَصَره غِشَاوَة وَلَهُ الْحُجَّة التَّامَّة وَالْحِكْمَة الْبَالِغَة .
"Maksudnya semua perkara dibawah perlaksanaannya, dia menahan dan memberi kepada sesiapa yang dia kehendaki, dengan Iman dan Ilmu dan seluruhan perlaksanaannya kepada sesiapa yang dia kehendaki, menyesatkan, membutakan penglihatan, menutup hati dan pendengaran, dan menjadikan penglihatan mereka kelabu, dan kepadanya yang mempunyai hujah yang sempurna dan hikmah yang agung"
b. Firman Allah swt :-
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ
"Dan orang-orang Yahudi itu berkata: "Tangan Allah terbelenggu" " [al-Maaidah : 64]
Berkata Ibn Kathir :
وَقَالَ عَلِيّ بْن أَبِي طَلْحَة : عَنْ اِبْن عَبَّاس قَوْله وَقَالَتْ الْيَهُود يَد اللَّه مَغْلُولَة قَالَ لَا يَعْنُونَ بِذَلِكَ أَنَّ يَد اللَّه مُوثَقَة وَلَكِنْ يَقُولُونَ بَخِيل يَعْنِي أَمْسَكَ مَا عِنْده بُخْلًا تَعَالَى اللَّه عَنْ قَوْلهمْ عُلُوًّا كَبِيرًا
''Berkata Ali bin Abi Thahah : dari Ibn Abbas, (Firman Allah) - "Dan orang-orang Yahudi itu berkata: "Tangan Allah terbelenggu" , dia berkata bahawa tidak bermaksud tangan Alah terbelenggu, akan tetapi BAKHIL, yakni dia menahan dari memberi perkara yang dia miliki (dia bakhil), Maha Suci Tuhan dari perkataan mereka dengan setinggi-tingginya"
2. maksud DEKAT.
a. Firman Allah swt :-
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
"Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, " - [Qaf : 16]
Berkata Ibn Kathir rh :-
يَعْنِي مَلَائِكَته تَعَالَى أَقْرَبُ إِلَى الْإِنْسَان مِنْ حَبْل وَرِيده إِلَيْهِ وَمَنْ تَأَوَّلَهُ عَلَى الْعِلْم فَإِنَّمَا فَرَّ لِئَلَّا يَلْزَمُ حُلُولٌ أَوْ اِتِّحَادٌ وَهُمَا مَنْفِيَّانِ بِالْإِجْمَاعِ تَعَالَى اللَّهُ وَتَقَدَّسَ وَلَكِنَّ اللَّفْظ لَا يَقْتَضِيه فَإِنَّهُ لَمْ يَقُلْ وَأَنَا أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْل الْوَرِيد وَإِنَّمَا قَالَ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْل الْوَرِيد
"Maksudnya MALAIKAT lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya, dan jika seseorang mentakwil dengan ilmu maka dia telah terselamat (escape) dari tidak melakukan HULUL (kesatuan/union) atau ITTIHAAD. Kedua konsep ini DITOLAK secara total dengan KETINGGIAN dan KESUCIAN Allah, akan tetapi Lafaz juga tidak menunjukkan perkara tersebut, dia (Allah) tidak mengatakan : Aku lebih dekat padanya dari urat leher mereka, tetapi lebih dekat padanya dari urat leher mereka". Perkataan kami di takwilkan kepada malaikat. Begitu juga dengan surah al-Waqi'ah ayat 85, beliau menyebut bahawa sebagaimana Ibn Taimiyah mentafsirkan kami sebagai malaikat.
3. maksud BERSAMA :-
a. Firman Allah swt :-
قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
"Allah berfirman: Janganlah kamu takut, sesungguhnya Aku ada bersama-sama kamu; Aku mendengar dan melihat segala-galanya. "
Berkata Ibn Kathir :-
أَيْ لَا تَخَافَا مِنْهُ فَإِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَع كَلَامكُمَا وَكَلَامه وَأَرَى مَكَانكُمَا وَمَكَانه لَا يَخْفَى عَلَيَّ مِنْ أَمْركُمْ شَيْء وَاعْلَمَا أَنَّ نَاصِيَته بِيَدِي فَلَا يَتَكَلَّم وَلَا يَتَنَفَّس وَلَا يَبْطِش إِلَّا بِإِذْنِي وَبَعْد أَمْرِي وَأَنَا مَعَكُمَا بِحِفْظِي وَنَصْرِي وَتَأْيِيدِي
"ia itu : kamu berdua yang takut, kerana sesungguhnya Aku bersama kamu mendengar perkataan kamu dan perkataannya, dan melihat tempat kamu dan tempatnya, Tidak ada sesuatu yang lupt dariKu, dan ketahuilah bahawa ubun-ubunnya berada ditanganKu, maka tidak akan berkata-kata, bernafas, kekuatan, melainkan dengan izinku serta pemerintahanku, dan aku bersama kamu menjaga, memberi pertolongan dan menyokong kamu"
b. Firman Allah swt :-
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
"Dia tetap bersama-sama kamu di mana sahaja kamu berada" [surah al-Hadid : 4]
Berkata Ibn Kathir :-
أَيْ رَقِيب عَلَيْكُمْ شَهِيد عَلَى أَعْمَالكُمْ حَيْثُ كُنْتُمْ وَأَيْنَمَا كُنْتُمْ
"iaitu di menguasai kamu didalam pekerjaan kamu dimana sahaja kamu dan dimana sahaja kamu berada"
Bersama disini membawa maksud pengawasan Allah terhadap manusia.
Demikian merupakan beberapa petikan yang diambil dari buku al-Qardhawi yang merujuk kepada tafsir Ibn Kathiri aitu Tafsir al-Quran al-Azhim, yang jelas menunjukkan Ibn Kathir yang bermanhaj salaf ada mentakwil ayat al-Quran, dan boleh diterima pakai penakwilannya.
Sekian, wassalam
Mohd Khairol Amin
Rujukan penulis:
1. Syiekh Dr. Yusuf al-Qaradhawi. Fushul fi al-Aqidati baina al-Salafi wa al-Khalafi. Kaherah : Maktabah Wahbah, 2005. ms 144-148.
2. al-Qaradhawi dan Aysaerah- القرضاوي والأشاعرة
http://www.islamonline.net/
Tuesday, November 11, 2008
Allah Berada Di Atas Arsy?
Utusan Malaysia
Kemusykilan anda dijawab
MOHD YUSOF ABAS
SOALAN:
Ada kawan saya cuba memperkenalkan akidah Ibnu Taimiah yang mengatakan Allah berada di atas Arasy (saperti mana firman Allah SWT dalam Surah Taha ayat 5). Bolehkah tuan jelaskan maksud sebenar ayat tersebut?
- Jawahir Samat, Kulai, Johor.
JAWAPAN:
Apa yang ditimbulkan oleh kawan anda itu hanyalah kekeliruan yang sengaja dibawa oleh mereka yang berpenyakit hatinya. Ini seperti yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam firmannya yang bermaksud: "Adapun mereka yang ada penyakit zaigh (hati busuk) dalam hatinya, mereka sengaja mengikut-ikuti apa yang kesamaran dari ayat mutasyabih tersebut, kerana mencari fitnah dan mencari takwelnya sendiri (mengikut fikirannya sendiri)" (Surah Ali Imran ayat 7). Mereka tahu bahawa suatu perkataan (kalimah) yang mutasyabih itu mengandungi makna yang banyak, ada yang sesuai seperti ayat muhkam yang lain tetapi mereka berdegil tidak mahu menerima makna yang jelas tersebut. Mereka ingin menerima makna yang samar juga, pada hal makna yang tidak samar itu pun adalah makna (majaz) bagi kalimah yang mutasyabih tersebut.
Itulah sebenarnya tanda hati kawan anda yang berpenyakit tadi. Bagi kita sesuai dengan kedudukan seseorang itu harus dia menerima sebarang makna yang sesuai dan layak dengan kesucian dan kebesaran Allah, apa lagi makna dan sifat tersebut dijelaskan Allah dalam ayat (muhkam) dari Quran-Nya sendiri. Sedangkan makna bersemayam itu membawa kesamaran yang memberi faham Tuhan menyerupai makhluk-Nya dan ini adalah suatu pembohongan kerana bagaimana Allah yang qadim (tiada permulaan dan tiada pengakhiran) itu boleh berada atas arasy yang baru dan tidak wujud lagi, kerana kalam Tuhan itu qadim sebelum adanya sesuatu yang baru dari makhluk. Ini adalah kedangkalan yang nyata dari fahaman dan pemikiran mereka. Wallahualam.
* Aku amat-amat tidak setuju dengan jawapan yg diberikan oleh MOHD YUSOF ABAS, sungguh tidak patut sekali penerangan yg diberikan oleh beliau sebagai orang yg berilmu.
* Memang sukar untuk seseorang itu jika tidak dapat membezakan fahaman iktikad al-Jahmiyyah dengan iktikad Ahli Sunnah Wal Jamaah.
* Sedangkan Allah istiwaa(bersemayam) diatas Arsy merupakan iktikad Ahli Sunnah Waljamaah dan yg mengubah maksud/menta'wilkan maksud istiwaa kepada Istawla merupakan fahaman al-Jahmiyyah yg sesat lg menyesatkan.
"Mereka(Ahli Sunnah Wal Jamaah) tidak menta’wil ISTIWAA/ISTAWAA dengan ISTAWLA yang artinya : Berkuasa. Seperti halnya kaum Jahmiyyah dan yang sefaham dengan mereka yang mengatakan ”Allah istiwaa di atas ‘Arsy” itu maknanya : Allah menguasai ‘Arsy !. Bukan Dzat Allah berada di atas langit yakni di atas ‘Arsy-Nya, karena Allah berada dimana-mana tempat !?… Mereka ini telah merubah perkataan dari tempatnya dan telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan Allah kepada mereka sama seperti kaum Yahudi (baca surat Al-baqarah : 58-59).
* Lihat, baca dan fahami ulasan yg diberikan oleh sahabat kita Abu Usamah Mohd Masri bin Mohd Ramli yg lebih berilmiah dan diyakini, bukan hanya dengan mengatakan seseorang itu hati berpenyakit.
http://the-authenthic.blogspot.com/2008/11/allah-berada-di-atas-arsy.html
Kemusykilan anda dijawab
MOHD YUSOF ABAS
SOALAN:
Ada kawan saya cuba memperkenalkan akidah Ibnu Taimiah yang mengatakan Allah berada di atas Arasy (saperti mana firman Allah SWT dalam Surah Taha ayat 5). Bolehkah tuan jelaskan maksud sebenar ayat tersebut?
- Jawahir Samat, Kulai, Johor.
JAWAPAN:
Apa yang ditimbulkan oleh kawan anda itu hanyalah kekeliruan yang sengaja dibawa oleh mereka yang berpenyakit hatinya. Ini seperti yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam firmannya yang bermaksud: "Adapun mereka yang ada penyakit zaigh (hati busuk) dalam hatinya, mereka sengaja mengikut-ikuti apa yang kesamaran dari ayat mutasyabih tersebut, kerana mencari fitnah dan mencari takwelnya sendiri (mengikut fikirannya sendiri)" (Surah Ali Imran ayat 7). Mereka tahu bahawa suatu perkataan (kalimah) yang mutasyabih itu mengandungi makna yang banyak, ada yang sesuai seperti ayat muhkam yang lain tetapi mereka berdegil tidak mahu menerima makna yang jelas tersebut. Mereka ingin menerima makna yang samar juga, pada hal makna yang tidak samar itu pun adalah makna (majaz) bagi kalimah yang mutasyabih tersebut.
Itulah sebenarnya tanda hati kawan anda yang berpenyakit tadi. Bagi kita sesuai dengan kedudukan seseorang itu harus dia menerima sebarang makna yang sesuai dan layak dengan kesucian dan kebesaran Allah, apa lagi makna dan sifat tersebut dijelaskan Allah dalam ayat (muhkam) dari Quran-Nya sendiri. Sedangkan makna bersemayam itu membawa kesamaran yang memberi faham Tuhan menyerupai makhluk-Nya dan ini adalah suatu pembohongan kerana bagaimana Allah yang qadim (tiada permulaan dan tiada pengakhiran) itu boleh berada atas arasy yang baru dan tidak wujud lagi, kerana kalam Tuhan itu qadim sebelum adanya sesuatu yang baru dari makhluk. Ini adalah kedangkalan yang nyata dari fahaman dan pemikiran mereka. Wallahualam.
* Aku amat-amat tidak setuju dengan jawapan yg diberikan oleh MOHD YUSOF ABAS, sungguh tidak patut sekali penerangan yg diberikan oleh beliau sebagai orang yg berilmu.
* Memang sukar untuk seseorang itu jika tidak dapat membezakan fahaman iktikad al-Jahmiyyah dengan iktikad Ahli Sunnah Wal Jamaah.
* Sedangkan Allah istiwaa(bersemayam) diatas Arsy merupakan iktikad Ahli Sunnah Waljamaah dan yg mengubah maksud/menta'wilkan maksud istiwaa kepada Istawla merupakan fahaman al-Jahmiyyah yg sesat lg menyesatkan.
"Mereka(Ahli Sunnah Wal Jamaah) tidak menta’wil ISTIWAA/ISTAWAA dengan ISTAWLA yang artinya : Berkuasa. Seperti halnya kaum Jahmiyyah dan yang sefaham dengan mereka yang mengatakan ”Allah istiwaa di atas ‘Arsy” itu maknanya : Allah menguasai ‘Arsy !. Bukan Dzat Allah berada di atas langit yakni di atas ‘Arsy-Nya, karena Allah berada dimana-mana tempat !?… Mereka ini telah merubah perkataan dari tempatnya dan telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan Allah kepada mereka sama seperti kaum Yahudi (baca surat Al-baqarah : 58-59).
* Lihat, baca dan fahami ulasan yg diberikan oleh sahabat kita Abu Usamah Mohd Masri bin Mohd Ramli yg lebih berilmiah dan diyakini, bukan hanya dengan mengatakan seseorang itu hati berpenyakit.
http://the-authenthic.blogspot.com/2008/11/allah-berada-di-atas-arsy.html
Subscribe to:
Posts (Atom)